Entri Populer

Jumat, 14 Juni 2013

Kyai Maman Hoki Bareng Gusdur Part 5

Ceritanya Pengalam Gus Dur waktu nyantri nih ...

Kyai Maman Hoki dengan Gus Dur... Part I

selama menjadi ajudan Kh. Abdurahman Wahid (Gus Dur) tidak disia-siakan oleh kyai maman, selain belajar dan berdialog dengan Gus Dur, beliau juga mencoba menganggkat sisi Gus Dur dari Segi Humor yang renyah dan cerdas....

Kyai Maman Kyai Anak Jalanan

Anak Jalanan dimata Kyai Maman Imanulhaq Faqih

KUNJUNGAN SULTAN HAMENGKU BUWONO X KE PONPES AL-MIZAN

kang maman Menyatakan apresiatif atas kedatangan Hamengku Buwono X Ke Pondok Pesantren yang Al-Mizan

Mentri PDT RI Silaturahmi ke Pesantren Al-Mizan

Kang Maman Menuturkan Perihal Silaturahmi Mentri PDT RI adalah hanya silaturahmi sebagai ikhtiar meningkatkan Nilai Ukhuwah ...

Kyai Maman Musik Mizani Video Clip

Musik sejatinya dapat dengan mudah menyentuh jiwa semua orang, akan sangat menarik jika nilai-nilai religius dibaluti seni yang dengan tidak mengabaikan esensial religi...

(Wawancara Ekslusiv) Keberagaman Dalam Demokrasi dari sudut pandang Kiyai Maman



KH Maman Imanulhaq: Nahdliyin Bisa Contoh Perubahan Peristiwa Maulid

Majalengka – Maulid Nabi di kalangan Nahdliyin bukan sekadar tradisi perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tetapi ada hikmah perjuangan untuk mempertahankan sesuatu yang baik bagi umat Muslim.
“Jangan pernah memandang makna Maulid dari sekedar tata bahasanya saja. Akan tetapi kita lebih menilik ke dalam pemaknaan para ulama sebagai tradisi,”ungkap anggota Dewan Syuro Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa KH Maman Imanulhaq Faqieh, Selasa (22/1/2013).
Nilai-nilai yang terkandung dalam Maulid, ujarnya, lebih didasari rasa syukur atas kedatangan Muhammad SAW ke muka. Serta daya juangnya membawa umat dari masa kegelapan menuju masa terang benderang.
Hikmah lain atas kelahiran Rasulullah, yaitu mengajarkan kepada umatnya bahwa “al – Hayat jihad wa aqidah”. Artinya, hidup adalah sebuah perjuangan dan keyakinan.
Pengasuh Ponpes Al-Mizan Majalengka ini menyimpulkan, selayaknya memperingati Maulid sebagai sebuah kelahiran peradaban baru.
“Beliau merupakan tauladan bagi kita dari kondisi yang tak mengenakkan dapat diubah menjadi sebuah kondisi yang baik dalam dirinya,” ungkap Kiai Maman.
Sumber: DPP PKB

Sekilas Perjalanan Kang Maman

 
ImageMuda, energik! Itulah kira-kira yang dapat digambarkan sosok kyai progresif yang berkediaman di Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Sehingga, saking kemudaannya yang masih menonjol, sepintas tidak kelihatan tokoh yang satu ini adalah kyai. Namun, itulah KH. Maman Imanulhaq Al-Faqieh “kyai muda” yang biasa disapa Kang Maman.
 
Lahir di kota Sumedang 8 Desember 1972 dari keluarga religius, pasangan Drs. H.Abdurrochim dan Hj. Lalih Halimah.

Masa kecil yang dilaluinya di sebuah wilayah sejuk lereng Gunung Tampomas Cimalaka, Sumedang, dengan hamparan sawah, kicau burung, hembusan kabut pagi, wangi rerumputan serta keragaman budaya Sunda yang khas, telah menumbuhkan potensi dan bakat seninya.

Selama enam tahun menempa ilmu di Ma’had Baitul Arqom, Bandung Selatan, dengan kedisiplin belajar, berorganisasi serta keahlian berbahasa sehingga membentuk kepribadian yang progressif, toleran, serta mempunyai kualitas spiritual yang penuh.

Masa-masa “kegelisahan” ia jalani dengan lakon silaturahmi ke beberapa Ulama besar dan pesantren di Pulau Jawa, seperti Ua Khoer Afandi Manonjaya Tasikmalaya, Mama Bantargedang, Mbah Dullah Salam di Kajen Pati Jawa Tengah, Kyai Mudzakir Pekalongan dan Pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur. Tempat-tempat karamah, pusat-pusat kebudayaan, serta terminal bus adalah tempat yang kerap ia kunjungi karena memberinya sebuah  hikmah (moral lesson)  “wajah kemanusiaan” serta “nilai ilahiyah” yang hakiki.

Semenjak mendirikan pesantren Al-Mizan tahun 1998, ia kerap dipanggil Aa atau Kang Maman oleh para santri dan jama'ah Dzikir & Muhasabahnya yang tersebar di wilayah III Cirebon, wilayah Priangan Timur, Sumedang, Brebes, dan Pekalongan. Sebuah panggilan yang mengisyaratkan sebuah kehangatan, egaliterian serta penolakan terhadap budaya feodalisme yang mewabah di kalangan pesantren.

Sekitar tahun 1998-1999, saat Reformasi bergulir, ia mulai aktif menjadi mubaligh. Bersama KH. Manarul Hidayat, Habib Idrus Jamalullail, dan para mubaligh lain, ia kerap mengisi acara pengajian di Majlis Ta’lim Hidayatullah Cirebon, Jawa Barat.

Metode ceramahnya yang renyah bermakna, humoris berbobot -yang menurutnya merupakan berkah dari Kyai-nya masa di Arqom, yakni KH Yusuf Salim Faqih. Ceramahnya yang juga diselingi syair sholawat yang ia karang serta dzikir muhasabah yang menyentuh di akhir pengajiannya, telah menyedot perhatian umat di berbagai tempat. Badan Dakwah Islam (BDI) Pertamina, PT Wika, BI adalah sebagian dari perusahaan yang sering mengundangnya.

Materi pengajiannya yang memperlihatkan pemihakan terhadap dhu’afa (the weak), dan mustadh’afin (the oppressed) kepedulian pada ranah budaya lokal, merangkul kaum pinggiran (marginal) serta mensponsori kreativitas anak-anak muda, telah menjadikannya sosok kiyai muda yang diterima semua kalangan. Karena, di samping aktif mengisi pengajian, ia pun rajin menghadiri diskusi-diskusi di P3M Jakarta, Halaqoh Budaya, workshop, kegiatan kesenian serta dialog lintas agama dan kepercayaan.

Tulisan-tulisan serta puisi religiusnya sering menghiasi koran dan majalah. Selama tahun 2003, dengan ALIF dan Olimpide Kebudayaan ia keliling dalam kegiatan Syukur Pesisir. Oktober 2003, menjadi pembicara dalam  Konggres Kebudayaan V di Bukittinggi Sumatra Barat. September-Oktober 2004 berkujung ke USA, sebagai peserta program Inter-religios Dialogue Ohio University. Dengan ghiroh memperjuangkan maqashid syari’at Islam, yakni menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal, ia aktif di dalam kajian pemikiran Islam progressive di Fahmina Institute Cirebon, Akademi Entrepreneur Al-Biruni Ciwaringin Yayasan Pendidikan Seni Nusantara Jakarta dan TGI (The Grage Institute).

Sekarang, di tengah kesibukannya sebagai Ketua LD-NU serta Pengurus Jamiyyah Thaoriqoh Al-Mu’tabor An-Nahdiyyah, Bapak dari tiga anak; Fahma, Hablie, Ghaitsa, ini sedang berusaha mengembangkan Pesantren Al-Mizan, Program Out Bond (Pesantren Alam) serta mengembangkan pengajian Dzikir & Muhasabah, serta merintis Pesantren Budaya dengan Komunitas Gamelan Sholawat “Qi Buyut” sebagai maskotnya. [Disarikan dari DAURAH Kebudayaan –Kantata Research Indonesia]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review